Santri dan Kemandirian Sosial


Perjalanan kepesantrenan adalah perjalanan yang sangat panjang. Dari masa kasunanan, wali sanga sampai pada masa millenial, eksistensi pesantren masih menjadi warna tersendiri bagi perjalanan bangsa ini.

Pendidikan pesantren sendiri memiliki keunikan-keunikan yang tidak tentu sama, antara satu dengan yang lainnya. Salah satu bentuk pendidikannya adalah kemandirian. Hal ini menjadi pelajaran mendasar bagi para santri. Semisal, kebutuhan makan, mencuci pakaian, membersihkan kamar dan lingkungan. Kesemua itu adalah pelajaran dasar dalam pesantren untuk melatih kemandirian.

Sebelum menuju pada pembelajaran kesadaran, santri terlebih dulu membiasakan. Karena pelajaran pembiasaan ini tentu membutuhkan nafas panjang dalam perjalanannya. Di samping itu harus meninggalkan kebiasaan lama yang tentu berbeda dengan saat ada di pesantren. Di mana kebutuhan sehari-hari biasanya tergantung mama dan papa, ketika nyantri tentu bukan lagi mengandalkan mama dan papa.

Dalam kontek makan misalnya, santri harus menanak nasi dan lauk sendiri, biasanya dikenal dengan ngliwet. Ngliwet identik dengan nasi yang hampir menyerupai bubur, kempal dan tidak seperti nasi pada umumnya. Namun tetap nikmat ketika disantap. Entah karena tidak ada lagi, atau memang kondisi yang harus dilalui oleh manusia sebagai cikal bakal adalah dengan membiasakan diri apa adanya, termasuk makanan.

Membiasakan diri untuk bersikap apa adanya tentu sangat sukar, namun sebagai pijakan manusia, khususnya santri agar memiliki nilai kemandirian seharusnya dilalui dan dipelajari sedemikian rupa. Ngliwet adalah salah satu contoh kemandirian itu. Kemandirian yang lahir atas sikap pembiasaan menuju kesadaran.

Bisa kita bayangkan bagaimana pembiasaan itu dapat melatih kesadaran kita. Di dalam tradisi pesantren misalnya, ada jam belajar dan jam piket, pada awalnya memang berat untu dilaksanakan, tetapi ketika kebiasaan-kebiasaan itu diistiqomahi, maka akan menjadi kesadaran dalam kehidupan selanjutnya. Yaitu kehidupan di luar pesantren.

Pesantren juga mendidik santri agar memiliki mental yang siap ketika kelak sampai pada waktunya untuk bersikap dan mengambil kebijakan di kehidupan sosial yang sebenarnya. Salah satu contoh adalah tanggung jawab dan tidak mudah menyerah. Di pesantren diajarkan sikap untuk bertanggung jawab atas apa yang menjadi kewajibannya. Seorang santri harus tepat waktu dan patuh atas peraturan yang sudah ditetapkan. Hal ini juga tidak jarang dilanggar dan kemudian mendapat takziran, sebuah hukuman atas keteledoran. Malukah?

Tentu tidak, karena hal ini menjadi penempaan atas sikap dasar yang harus diperkuat oleh setiap santri. Agar siap mengarungi kehidupan yang sebenarnya. Oleh sebab itu kedewasaan itu harus ditumbuhkan dengan sesuatu yang bersifat rahmat dan sayangnya jarang sekali disadari, yaitu kesadaran.

Sebagai bentuk dari kesadaran, kedewasaan adalah simbol atas tumbuh kembangnya sebuah kesadaran. Kondisi di mana sangat langka sekali dimiliki oleh siapapun. Santri yang sudah biasa ditempa dalam kondisi apapun, sepatutnya memiliki kesadaran dan kepekaan yang besar. Salah satu kondisinya adalah ketika sedang lapar, maka harus mencari beras terlebih dahulu, membasuhnya lalu menyalakan api di tungku kemudian menanaknya. Tidak langsung makan dan siap saji seperti pada umumnya, kedewasaan ini dibangun melalui proses. Maka wajar ketika ada slogan “setia pada proses” santri adalah mereka yang setia pada langkah dan prosesnya. Bukan ujug-ujug dan menerima hasilnya.

Hal itulah yang kemudian membentuk kemandirian sorang santri. Penempaan-penempaan itulah yang kemudian membangkitkan semangat santri dalam mengarungi kehidupan yang sebenarnya. Yaitu di masyarakat sosial yang beragam. Kemandirian itu tidak serta-merta didapat begitu saja. Perlu ada perjalanan dan proses panjang, sekali cengeng maka jauh dari harapan untuk tumbuh sikap kemandirian. Oleh karenanya kondisi gudikan ketika di pesantren, ternyata tidak menyurutkan para santri untuk tidak mengaji, belajar dan memenuhi tanggung jawab yang lain.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa kemandirian itu lahir tidak serta merta, dari pelajaran ngliwet saja kita dapat menarik kesimpulan bahwa ilmu kemandirian itu butuh proses dan penempaan yang panjang. Butuh nafas yang tidak pendek. Apalagi ketika harus bersosialisasi dengan karakter santri yang beragam, namun tetap pada satu alur pembentukan sikap dan kesiapan. Santri adalah satu contoh pola pendidikan yang tidak hanya membentuk kecerdasannya saja, melainkan sikap mental dan kepekaan sosialnya.***

0 Response to "Santri dan Kemandirian Sosial"

Post a Comment

Terima kasih atas komentar dan masukan panjenengan semua, semoga ilmu dan masukan dari panjenengan bermanfaat untuk kita semua

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel