Kalau mampunya berjalan, mengapa memaksa berlari?

Line Today


Sebuah perjalanan Panjang pasti diawali dengan satu Langkah. Begitulah ungkapan yang sering kita dengan dan jumpai. Artinya, untuk melakukan sesuatu yang besar pasti dimulai dengan sesuatu yang paling kecil. Hal ini sudah menjadi hukum alam. Dan prosesnya akan sesuai dengan alur dan arah perjalanannya. 

Manusia akan mengalami naik turunnya tangga kehidupan. Pola atau siklus ini tidak bisa dibantah. Karena secara fitrah manusia diciptakan demikian. Tuhan sejatinya tidak akan mengubah nasib seseorang, jika ia tidak berusaha. Begitu dalam kitab suciNya. Tetapi fakta sosial berbicara lain. Di mana tidak sedikit yang hanya mengartikan perubahan itu pada nasibnya, bukan pada prosesnya. 

Bagaimana kita dapat mengilhami sebuah perjalanan. Jika perjalanan itu hanya dimaknai pada muara hasilnya – tujuannya. Bukan pada prosesnya. Semakin kita menemukan Tuhan atau batas perjumpaan, semakin jelas bahwa kita masih jauh dari ruang kedap suara. Dari ruang yang hanya Tuhan yang tahu. Lantas bagaimana dengan prosesnya? 

Kita sering mendengar bahwa proses tidak akan menyelingkuhi hasil. Begitulah ujaran lama. Namun benar adanya. Bahwa memang semakin dalam mengarifi perjalanan, maka semakin luas dan lapang diri kita. Semakin luas penalaran kita, maka semakin luas hati kita. 

Tanggung jawab moral – social, adalah tanggung jawab kemanusiaan yang perlu dijalankan selama masih menghembuskan nafas. Bahwa setiap manusia memiliki peran masing-masing, pun demikian manusia memiliki ejawantah nilainya masing-masing. Hakikat perjalanan adalah permenungan. Tafakkur. 

Hal ini menjadi perintah Tuhan yang signifikan. Di mana setiap manusia diharapkan untuk berfikir. Bermenung. Mentadabburi ragam hal yang terjadi di depan mata. Karena semakin sering kita melakukan dan memenuhi tanggung jawab kita, maka semakin laju proses kemanusiaan kita. Karena yang terpenting dari apapun adalah kemanusiaan itu sendiri. Bahkan Tuhan tidak lantas mengampuni dosa manusia kepada manusia lainnya. Sebelum ia meminta maaf. Perkara ia memaafkan atau tidak itu menjadi urusan kesekian. 

Jiwa yang besar bukanlah jiwa yang menang atas segala kontestasi. Tetapi jiwa yang mampu mengalahkan dirinya sendiri. Kita boleh saja merancang ragam keinginan dan pencapaian, tetapi sebelum mengenali diri sendiri, apagunanya? Karena yang terpenting adalah memahami, sejauh mana diri ini berjalan. Karena jika kemampuan yang kita miliki saat ini hanya cukup untuk berjalan kaki, mengapa memaksakan diri untuk berlari. 

Bukan saja tak boleh, jika memang ingin segera berlari dan mencapai tujuan. Tetapi perlu adanya kecakapan untuk menyadari dan memahami kemampuan diri. Manusia memang diciptakan dengan potensi yang luar biasa. Beragam. Memiliki keutamaan pun kelemahaan. Tetapi perintah Tuhan adalah berpikir. 

Manusia diberi keutamaan untuk berpikir dan berinovasi. Namun manusia juga memiliki potensi untuk merusak dan mencaci maki. Namun jauh dari pada itu manusia memiliki potensi untuk saling mengungguli. Bahkan hampir menggeser posisi Tuhan. Maka wajar jika Sujiwo Tejo mengatakan “manusia itu gampang sekali kafir, salah satu contohnya; jika ia takut besok makan apa? Apakah besok masih bisa makan?” 

Dari sana, manusia memiliki ruang untuk mendominasikan dirinya pada aspek kesombongan. Egoisme yang tinggi, bahkan cenderung subjektif dalam memaknai segala hal. Namun begitulah keunikan manusia, dengan ragam pemikiran. Ragam pengetahuan, ide dan kreatifitasnya. 

Manusia merasa (menganggap) dirinya special, sehingga menganggap makhluk yang lain kurang special. Namun jauh dari pada itu tidak ada yang sia-sia dari ciptaanNya. Oleh karenanya special atau tidak, bukanlah menjadi masalah. Karena yang cenderung menjadikan setiap hal masalah adalah ketidak sadaran. 

Tidak sadar bahwa manusia diberi alat (indera) untuk berpikir. Merenungkan ragam hal yang terjadi. Sehingga bukan bertindak sebagai hakim Ketika menemui masalah, tetapi menjadi subjek perenung dan pemikir atas persoalan yang terjadi, kemudian mengilhami dengan tanggung jawab social kemanusiaannya.

Lagi-lagi, manusia dituntut untuk dewasa dengan belajar tiada henti. Belajar selagi masih terbuka lebar kedua matanya. Karena belajar tiada ruginya. Yang rugi adalah keengganan itu sendiri. Semakin kita enggan untuk belajar karena gengsi, maka semakin sempit akses kita menuju kesadaran yang optimal; kesadaran puncak. []

0 Response to "Kalau mampunya berjalan, mengapa memaksa berlari?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel