SYAHID

Kolom ini adalah Tulisan mas DS. Priyadi. Sebagai pegiat sastra dengan aliran rendraisme (menurut saya lho) cukup memberi asupan segar atas hingar bingar kondisi pandemi hari ini. Paling tidak kita bisa melihat sisi lain dari sebuah kematian dan kehidupan. Selamat membaca




Suatu hari, di tahun 615 Masehi, langit Arabia berkabung. Seorang pemuda bernama Ammar diringkus lantaran iman menyala di dadanya. Dalam aniaya ia menyaksikan sang bunda, Sumayyah, mati penuh siksa tak bertara, karena bersikukuh mendekap keyakinan: bahwa Tuhan hanyalah satu-satunya, tak berbanding dengan apapun juga.


Sejarah kemudian mencatat Sumayyah sebagai pemeluk Islam yang pertama kali gugur syahid, disusul Yasir suaminya.


Kekejian siksa itu terus berlanjut dialami para pengikut Nabi di tahun-tahun awal kerasulannya. Teror merajalela. Citra sang Nabi yang sebelumnya masyhur sebagai pribadi paling jujur, diberangus. Oknum-oknum Quraisy secara gegap-gempita memprodusir berita bahwa Nabi hanyalah seorang buta huruf sinting, yang berambisi merusak tatanan dan persatuan.


Dan iman akan keesaan Tuhan dicap sebagai marabahaya. Dianggap sebagai konspirasi konyol yang harus ditumpas seakar-akarnya. Firman tentang kesetaraan antara budak dan tuan dipandang sebagai ide paling gila. Dan kabar atas kesabaran dan sorga ditertawakan sebagai isapan jempol belaka.


Tapi suara langit tak bisa dicegah. Ia terus berdengung dalam sanubari mereka yang dirampas hak-haknya sebagai manusia. Ia membahana di atas bangkrutnya tatanan kehidupan, yang taraf kerusakannya bahkan tega mengubur hidup bayi-bayi perempuan, yang kala itu dipandang aib dan hina.


Dalam anomali itulah status iman tiba-tiba dianggap gawat. Iman menjadi sangat menakutkan karena berpotensi merongrong wibawa para berhala yang mati-matian dituhankan demi memberi ruang legitimasi hasrat menuhankan diri sendiri.


Maka, di atas gurun pasir yang terik, Summayah dicambuki. Ditimpa batu dan akhirnya ditikam mati.


Namun desis kata terakhirnya tetap teguh, mengguncangkan hati para penyiksa dan orang-orang yang menyaksikannya. "Tuhan satu... satu... satu..."


Ahadu Ahad. Getarannya bagai membubung ke udara. Menjadi cahaya bagi hati yang mengimaninya.


Ya. Iman memang hal yang musykil. Ujung jari kita tak serta-merta bisa menunjuknya. Tiap-tiap zaman punya kadar pengingkarannya.


Namun, jejak peradaban umat manusia telah mengajarkan: tanpa iman nurani menjadi tuli. Hidup menjadi liar tak terkendali. Tanpa iman segala kebusukan dipelihara dengan bangga oleh mereka yang angkuh berdiri di atas harta, kekuatan, dan kekuasaan. Tanpa iman hidup terperosok dalam hukum rimba dan mengkerdil dalam ruang pengap duniawi yang kejam dan dangkal. Tanpa iman, keadilan dan kemanusiaan diremehkan.


Di atas segala takdirnya yang jelata, Sumayyah gugur dan syahid. Keteguhannya membuka mata kita semua, bahwa iman yang dikeukeuhinya tak pernah sia-sia. Ia menjadi bintang cemerlang yang menyala, di tengah kegelapan dan ketakutan yang melanda kehidupan manusia.


DS Priyadi

Yogya, 19 Des 2020




0 Response to "SYAHID"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel