Mengenali Lelakon Dalam Kehidupan

Berdikarionline.com


Seperti pada pembukaan dalam babad Diponegoro, mijil no.3 cobaan hidup sudah aku jalani, adapun permohonanku, yang masih awal dan yang akhir, semoga semua keluarga merestui kepada agama nabi, semoga mendapat pertolongan. Dalam konteks ini, tiada manusia yang tidak menemui jalan terjal, berlobang, tiba-tiba berkelok, licin, penuh kerikil dan pasir. Agaknya, selagi masih hidup maka kita akan menjumpai ragam bentuk sebuah perjalanan. 

Semestinya kesadaran menjadi titik balik dari sebuah perjalanan dalam kehidupan. Apa sebab? Untuk mengolah rasa dan mengolah pikir maka perlu kepekaan, keberpihakan dan kedewasaan. Tidak sedikit di antara kita yang masih menelusuri ruas-ruas jalan dalam pikirannya. Artinya perihal tersesat atau tidak, ia akan menemukan jalan terbaiknya ketika ia menemui kondisi pada kepekaan atau kesadaran itu. 

Pertanyaan aksiologisnya adalah apa tujuan hidup itu? akan sangat beragam jawaban yang muncul dan berkembang. Kembali lagi kepada laku jiwa dan laku raganya. Laku batin dan laku dlahirnya. Suluk pikir dan suluk dzikirnya. Pada kondisi tertentu, manusia memiliki kecenderungan untuk memenuhi apa yang ia pikirkan, dan apa yang ia harapkan. Fitrah manusia memang demikian, kecerdasan dan ditunjang dengan pikiran sebagai anugerah terbesar dari Tuhan adalah piranti agar menusia menyadari ia dari mana dan akan kemana. Sangkan paraning dumadi. 

Ragam ide yang muncul di dalam pikiran manusia adalah bentuk bahwa Tuhan selalu menggiring manusia dalam berpikir dan berupaya. Istilah jawa mengatakan sundul langit (setinggi langit) artinya manusia boleh memiliki keinginan setinggi apapun. Tetapi perlu disadari bahwa manusia dibati oleh ruang dan waktu. Oleh sebab itu manusia diberi arahan untuk bersikap konsisten (istiqamah). Karena tidak jarang manusi bersikap di luar kendalinya. Ada sebuah perasaan yang seharusnya dinaik  turunkan. Pola inilah yang kemudian bisa mengantarkan kepada kesadaran dan kedewasaan. 

Masalah yang dihadapi setiap manusia adalah jalan yang beragam bentuknya, sehingga bukan masalah jalan atau medannya kemudian, melainkan bagaimana seseorang menyadari dan memilih jalan yang dirasa bisa dan penting untuk dilalui. Jika saja menemui jalan yang berlubang, maka akan muncul beragam opsi untuk menerobos atau menghindari jalan tersebut. Proses memilih inilah yang kemudian dikenal dengan waskita, kepekaan dan kedewasaan berpikir. 

Perjumpaan dengan kesadaran adalah proses yang menyerupai pendulum. Di mana seseorang perlu berjibaku dengan ragam kehidupan, sehingga ia menemui kesadaran bahwa memang perlu dilanjutkan atau berhenti pada batas tertentu. Pun dengan menegaskan bahwa dirinya adalah lakon yang memang sedang menjalani peran kehidupan. Kita tahu bahwa setiap manusia adalah wayang, dan wayang pasti memiliki dalang. Namun wayang yang satu ini diberi keleluasaan untuk merubah ragam nasib atau lakon yang ia jalani. Dengan berusaha, menyerahkan diri kepadaNya dengan sepenuh hati, dan  tentu tidak menghianatiNya. 

Oleh sebab itu, sastra jendra hayuning laku, hayuning rasa, adalah sebuah medan kehidupan dengan diserahkan sepenuhnya kepada wayang untuk menentukan sendiri bagaimana akhir dari sebuah kisah atau lelakunya. Karena sebaik-baiknya wayang, adalah ia yang menyadari bahwa dirinya adalah wayang, yang sepatutnya manut terhadap dalang. [] 

0 Response to "Mengenali Lelakon Dalam Kehidupan"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel