Filsafat etik-humanisme

Serupa.id

Seperti kata Kyai Sutara dalam bukunya Gus Taufiq WR. Bahwa air seember tiada berguna bagia mereka yang tiada dahaga, tetapi air secangkir sangatlah berharga bagi ia yang kehausan dan kering tenggorokannya. Maka perjalanan kehidupan itu penuh dengan olah rasa dan cipta karsa yang proporsional.

Manusia berhak menjauhi dosa dan kenistaan, tetapi apakah manusia bisa luput dari itu semua? Tentu tidak. Seperti yang dituturkan oleh beliau Mulla Sadra (980-1050H) bahwa; apa saja yang melekat dengan manusia maka memiliki potensi merubah gerak dan gaya dalam hatinya.

Pada dasarnya manusia memiliki keterasingan dalam hatinya. Di kala ia merasakan puncak keakuannya, maka akan ada ruang kosong yang menyita pikirannya. Ia merasa gundah gulana. Hal ini hampir pernah dirasakan oleh setiap manusia. Akhirnya hanya kepada Tuhanlah kembali, yang mana tiada pintu tertutup dari-Nya. Di mana suara kerinduan yang kian memanggil lalu bersimpuh di hadapanNya.

Hal ini pernah disinggung oleh Plato (428-348 SM) bahwa jiwa itu terpenjara di dalam Tubuh, tubuh cenderung bersikap rakus, sedangkan jiwa adalah ruang rasa yang jernih dan suci. Dengan Demikian Tazkiyatun Nafs perlu dikenal – kembangkan sejak dini. Proporsionalitas kebutuhan perlu disajikan sejak dini, dan dikenal – gandengkan.

Bahwa manusia memiliki kebutuhan primer maupun sekunder iya, tetapi apakah hanya itu yang kemudian menjadi dialog sepanjang hidupnya? Manusia diharap menjadi seperti sungai; pesan Maulana Rumi (1207-1273). Analogi sungai adalah ia mengaliri dan menyuplai air, nutrisi bagi tanaman sekitar tanpa meminta pun merusak yang dialirinya. Tanpa pandang bulu, ia mengalir dari hulu ke hilir.

Seperti dikatakan dalam syair Gubahan Sunan Ampel, Raja Bungsu, atau Raden Rahmad yang – lalu diwedarkan oleh Syeh Malaya Sunan Kalijaga R. Said Waliyullah Tanah Jawi Langgenging Bawana, bahwa di dalam salah satu syiirnya;

“Cah angon, cah angon

Penekno Blimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekno

Kangga mbasuh dodot iro.”

Wahai anak, Panjatlah Belimbing

Walaupun licin, untuk membasuh pakaianmu.

Interpretasi lain; bahwa setiap hal perlu diupayakan dan diusahakan. Begitu juga dalam mengenal diri. Mengenal aku sebagai jiwa atau aku sebagai tubuh atau aku sebagai manusia. Tidak sedikit yang kadang tertipu oleh keakuannya. Terbuai oleh kemelekatan yang ada di dalam dirinya. Kemelakatan itu ada yang tampak dan ada pula yang tidak tampak.

Manusia memiliki kecerdasan, kewibawaan, pun memiliki gelimang harta dan kekayaan. Kesemua itu adalah kemelekatan. Tinggal bagaimana manusia melepas dan dialog dengan kemelakatannya. Manusia selalu memiliki obsesi, obsesi ini kadang menjadi tujuan bukan di kemudian hari, melainkan sudah menjadi patri sepanjang hidupnya. Tubuh memiliki orientasi dan obsesi yang tampak; memiliki jabatan, hidup Bahagia di dunia (tentu sangat subjektif) dan jiwa memiliki obsesi dan orientasi yang lain selepas kematiannya.

Hal ini pernah disinggung oleh Hobbes (1588-1679) bahwa manusia dikelilingi oleh ragam obsesi, ada yang bersifat tampak dan ada yang berbias pun nisbi. Bias inilah yang meliputi manusia sebagai satu kesatuan antara tubuh dan jiwa menurut Aristoteles(384-322 SM). Hal ini sejalan dengan perkembangan manusia; ruhaniah pun jasmaniahnya.

Maka dari itu, yang terpenting bukan seberapa menilai kemanusiaan yang ada di luar diri, melainkan seberapa sering anda menengok kemanusiaan yang ada di dalam diri anda. Karena sampai hari ini, kita atau diri ini tidak bisa mengontrol apa yang ada di luar diri. Maka salah satu interpretasi dari man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa nafsahu adalah mengenali diri atas ruang kemanusiaan yang ada di dalam diri kita. Jika Tuhan atau lebih tepatnya adalah sifat dan nama-namaNya dapat diketahui dan dikenal sebagai bentuk sifat kemanusiawian yang melekat dalam diri manusia.

Ujaran jawa mengatakan bahwa weruh sak durunge winarah, maka kesadaran itu posisinya lebih tinggi dan lebih utama dari pengetahuan, karena adanya proses belajar dan terus belajar. Sejalan dengan itu, belajar tidak ada batasnya, kecuali sudah di liang lahat.

Menggali kesadaran sama sulitnya dengan membangunkan kesadaran. Membangunkan sebagai predikat tentu ada subjeknya. Dan mengenali subjek inilah yang sukar.

Tidak jarang rasa enggan itu kemudian muncul bahkan sudah melekat di dalam diri begitu saja. Hal inilah yang perlu dipahami dan dikenali. Dan membuang rasa enggan itu perlu pembiasaan.

Mengenali diri sama halnya mengenali relasi atau pasangan. Karena tidak ujug-ujug saling suka dan pas tanpa adanya perkenalan dan pemahaman.

Untuk saling mengenal dan memahami, perlu tahu diri terlebih dahulu, memahami substansi dan hakikat diri sebagai hamba, lalu tujuan pengabdiannya. Karena manusia diciptakan tidak lain hanya untuk mengabdi kepada Tuhan.

Tuhan Maha Segalanya, Tuhan menitahkan makhlukNya dengan beragam takdir dan nasib yang tentunya bisa dirubah atas usaha dan kiat yang kuat. 

Sehingga untuk mengenal manusia lebih dalam lagi perlu adanya keeratan antara jiwa dan tubuh yang menyandangnya. Karena jiwa tiada lekat jika tubuh tak mengikat. 

Jiwa berbagi rasa sedang tubuh berupaya. Menjadi manusia adalah titah, menjadi manusiawi adalah pilihan. Dan hal ini adalah sebuah keniscayaan.[]

0 Response to " Filsafat etik-humanisme"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel