Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi, Orang Tua Harus Tahu

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi. Bayi merupakan anugrah dari Allah SWT terhadap pasangan yang sudah menikah. Kehadirannya amat ditunggu, bahkan bisa membawa kebahagiaan tersendiri.

Ketika mereka lahir, tentu ikut juga placenta sebagai saluran makanan di rahim. Lalu, bagaimana Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Dalam Islam?

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi

Ini sangat penting untuk diketahui, supaya tidak ada kesalahan dalam penafsirannya. Sehingga, tidak menimbulkan suatu perkara yang masih samar-samar.

Maksud dari Tali Pusar Bayi

Ketika seorang ibu melahirkan, pada pusar bayinya terdapat tali yang berfungsi sebagai penyalur sari-sari makanan dari ibu ke anaknya. Dalam biologi, benda tersebut bernama placenta. Sedangkan orang Jawa lebih sering menyebutnya “ari-ari” atau “batur”

Tali pusar akan mengering dan lepas dengan sendirinya setelah beberapa hari bayi lahir. Beberapa ibu seringkali menyimpan benda tersebut sesuai anjuran orang-orang tua jaman dulu. Sementara, Islam punya pandangan lain terkait ha itu.

Hal tersebut dikarenakan tali pusar merupakan lambang penghubung antara bayi dengan ibu mereka. Jadi, ketika menyimpannya diharapkan si kecil dan ibu bisa terhindar serta terlindungi dari hal-hal ghaib yang merugikan mereka seperti sihir dan sejenisnya.

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi

Bila Anda mencari dalam Al-Qur’an atau Hadist, tidak akan pernah ditemukan anjuran menyimpan tali pusar bayi, baik dalam keadaan basah maupun mengering. Ditakutkan, hal tersebut malah menjerumuskan ibu mereka ke arah musyrik.

Dalam kitab Fathul Bari oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani  menyebutkan bahwa, “Para pengikut mahdzab kami (Syafi’iah) menganggap bahwa menguburkan (kuku, rambut) merupakan sunnah karena benda tersebut merupakan bagian dari tubuh manusia”

Hal tersebut juga disimpulkan sekalian terhadap tali pusar bayi karena terhitung masih anggota tubuh manusia meskipun bisa mengering dan terlepas sendiri. Sehingga, akan lebih baik kalau menguburnya saja daripada menyimpannya.

Adat Menyimpan Tali Pusar Bayi dalam Budaya Jawa

Anjuran seperti ini diturunkan oleh Allah SWT dalam Surat Al-Isra’ ayat 70, bahkan  hukum menyimpan tali pusar bayi juga pernah disinggung oleh Imam Ibnu Hajar yang membahasnya.

Secara pandangan Islam sendiri, tidak ada aturan khusus bagaimana menyimpan pusar bayi, asalkan diperlakukan dengan baik. Sementara masyarakat Jawa memiliki ritual unik sendiri. Hal tersebut boleh saja dilakukan asal tidak membawa mudharat kedepannya.

Mereka mengubur tali pusar bayi di samping halaman rumah. Menutupinya dengan baskom atau apapun lalu diberi lampu selama 40 hari. Didalamnya, ditaruh juga pensil, bunga, jarum, ikan asin, hingga kemiri. Tentu, hal tersebut dibarengi dengan maksud tertentu.

Baca Juga: 

Dalam beberapa budaya hukum menyimpan tali pusar bayi masih dianggap hal sakral karena bisa menolong bayi melalui hidup kedepannya.

Tapi Islam mengajarkan bahwa cara tersebut boleh diterapkan, asal tidak mengarah ke syirik. Hanya Allah SWT-lah yang patut dimintai pertolongan.

Demikianlah artikel tentang Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi, Orang Tua Harus Tahu yang dapat kami bagikan, semoga bisa memberi kemanfaatan.


0 Response to "Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi, Orang Tua Harus Tahu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel